Mengelola Stok Barang UMKM agar Tidak Rugi
13 Oktober 2026 · oleh Tim BisnisGue · 3 menit baca · Dibaca 3
Setiap barang di gudang adalah uang yang belum kembali ke kas. Stok yang dikelola asal-asalan bisa membuat usaha kehabisan modal meski penjualan terlihat lancar.
Artikel ini membahas cara sederhana mengelola stok untuk UMKM: menentukan prioritas barang, menghitung kapan harus memesan ulang, dan mencatat persediaan dengan rapi.
Risiko stok berlebih dan stok kosong
Stok yang terlalu banyak dan terlalu sedikit sama-sama merugikan, hanya dengan cara berbeda.
| Kondisi | Dampak bagi usaha |
|---|---|
| Stok berlebih | Modal tertahan, barang kedaluwarsa atau ketinggalan tren, butuh tempat penyimpanan lebih besar |
| Stok kosong | Penjualan hilang, pelanggan pindah ke pesaing, peringkat toko di marketplace bisa turun |
Tujuan pengelolaan stok adalah titik tengah: barang selalu tersedia saat dibutuhkan, tetapi tidak menumpuk.
Klasifikasi ABC: fokus pada barang terpenting
Tidak semua barang perlu diawasi dengan ketat yang sama. Metode ABC membagi barang berdasarkan kontribusinya terhadap nilai penjualan.
| Kelas | Ciri | Cara mengelola |
|---|---|---|
| A | Sedikit jenis barang, tetapi menyumbang sebagian besar omzet | Pantau setiap hari, jangan sampai kosong |
| B | Kontribusi sedang | Cek setiap minggu |
| C | Banyak jenis barang, kontribusi kecil | Cek bulanan, beli dalam jumlah secukupnya |
Untuk memulai, urutkan produk dari omzet terbesar ke terkecil selama tiga bulan terakhir. Biasanya beberapa produk teratas sudah menjadi tulang punggung usaha.
Stok minimum dan titik pemesanan ulang
Pesan ulang barang saat stok menyentuh titik pemesanan ulang, bukan saat stok sudah habis. Titik ini dihitung dari kecepatan penjualan, lama pengiriman pemasok, dan stok pengaman.
Titik pemesanan ulang = (Penjualan rata-rata per hari x Lama pengiriman) + Stok pengaman
Contoh: sebuah toko menjual rata-rata 10 bungkus kopi bubuk per hari. Pemasok butuh 3 hari untuk mengirim barang, dan pemilik ingin cadangan untuk 2 hari penjualan (20 bungkus).
Titik pemesanan ulangnya adalah 10 × 3 + 20 = 50 bungkus. Begitu stok tersisa 50 bungkus, pesanan baru harus dikirim ke pemasok.
FIFO dan FEFO untuk barang mudah rusak
Urutan pengeluaran barang menentukan berapa banyak stok yang terbuang.
- FIFO (First In, First Out). Barang yang masuk lebih dulu dijual lebih dulu. Cocok untuk pakaian, kemasan, atau barang yang bisa ketinggalan model.
- FEFO (First Expired, First Out). Barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat dijual lebih dulu. Wajib untuk makanan, minuman, dan kosmetik.
Cara praktisnya: letakkan barang baru di belakang rak, beri label tanggal masuk atau kedaluwarsa yang jelas, dan cek barang yang mendekati batas setiap minggu agar bisa dijual dengan promo sebelum terlambat.
Pencatatan dan stock opname rutin
Stok yang tidak dicatat tidak bisa dikendalikan. Catatan yang rapi juga membantu mendeteksi barang hilang atau rusak.
- Catat setiap barang masuk dan keluar. Gunakan aplikasi kasir, aplikasi inventaris, atau setidaknya spreadsheet.
- Beri kode atau nama yang konsisten. Bedakan varian, misalnya ukuran dan warna, agar tidak tertukar.
- Lakukan stock opname. Hitung fisik barang secara berkala, misalnya setiap bulan untuk semua barang dan setiap minggu untuk barang kelas A.
- Bandingkan hasil hitung dengan catatan. Selidiki selisih yang besar: salah catat, barang rusak, atau kehilangan.
- Gunakan data untuk keputusan. Barang yang lama tidak terjual bisa dijual dalam paket atau tidak dipesan lagi.
Pengelolaan stok yang baik menjaga dua hal sekaligus: kas tetap sehat dan pelanggan tidak kecewa. Mulailah dari barang terlaris, tentukan titik pemesanan ulangnya, dan biasakan mencatat setiap pergerakan barang. Kebiasaan kecil ini akan menghemat banyak uang dalam jangka panjang.
Artikel ini bermanfaat?