Bisnis Online

Cara Menentukan Harga Jual Produk agar Laku dan Tetap Untung

17 Oktober 2026 · oleh Tim BisnisGue · 5 menit baca · Dibaca 0

komponen harga pokok produksi (HPP)

Harga terlalu mahal, pembeli lari. Harga terlalu murah, usaha rugi tanpa terasa. Karena itu, cara menentukan harga jual menjadi salah satu keputusan terpenting dalam bisnis, baik online maupun offline.

Banyak pelaku usaha menetapkan harga hanya dengan melihat pesaing, lalu memasang sedikit lebih murah. Cara ini berisiko, karena biaya setiap usaha berbeda. Harga yang tampak bersaing bisa saja tidak menutup modal.

Artikel ini membahas cara menghitung harga pokok produksi (HPP), metode penetapan harga yang umum dipakai, contoh perhitungan, dan kesalahan yang perlu dihindari.

Langkah Pertama: Hitung Harga Pokok Produksi (HPP)

HPP adalah total biaya untuk menghasilkan satu unit produk. Harga jual tidak boleh berada di bawah HPP. Komponennya meliputi:

  • Bahan baku: semua bahan utama dan pendukung.
  • Kemasan: box, plastik, label, stiker.
  • Tenaga kerja: upah karyawan atau nilai waktu Anda sendiri.
  • Biaya overhead: listrik, gas, air, sewa tempat, penyusutan alat.

Contoh Menghitung HPP

Misalkan satu kali produksi menghasilkan 20 box brownies:

KomponenBiaya per produksi
Bahan bakuRp300.000
Kemasan (Rp2.000 × 20 box)Rp40.000
Tenaga kerjaRp100.000
Overhead (gas, listrik, penyusutan alat)Rp60.000
Total biayaRp500.000
HPP per box (Rp500.000 ÷ 20)Rp25.000

Angka hanya ilustrasi; gunakan biaya nyata usaha Anda.

6 Metode Menentukan Harga Jual

1. Cost-Plus Pricing (HPP + Markup)

Harga jual didapat dari HPP ditambah persentase keuntungan yang diinginkan. Metode ini paling sederhana dan cocok untuk pemula, karena memastikan setiap penjualan menutup biaya.

2. Harga Berdasarkan Pesaing

Anda melihat harga produk sejenis di pasar, lalu memasang harga setara, sedikit di bawah, atau sedikit di atasnya. Tetap pastikan harga yang dipilih masih di atas HPP dan menyisakan laba.

3. Value-Based Pricing (Berdasarkan Nilai)

Harga ditetapkan berdasarkan seberapa besar nilai yang dirasakan pembeli, bukan hanya biaya. Produk dengan merek kuat, desain unik, atau layanan istimewa bisa dijual lebih mahal karena pembeli menganggapnya sepadan.

4. Harga Psikologis

Contohnya Rp49.900 alih-alih Rp50.000. Selisihnya kecil, tetapi angka depan yang lebih rendah sering membuat harga terasa lebih murah di mata pembeli.

5. Harga Bundling

Beberapa produk dijual dalam satu paket dengan harga lebih hemat dibanding dibeli satuan. Strategi ini menaikkan nilai belanja per transaksi dan membantu menghabiskan stok yang kurang laku.

6. Harga Penetrasi

Harga awal dipasang lebih rendah untuk menarik pembeli pertama, lalu dinaikkan bertahap. Gunakan dengan hati-hati dan beri batas waktu yang jelas agar pelanggan tidak kaget saat harga naik.

Contoh Perhitungan: Markup vs Margin

Markup dan margin sering tertukar, padahal hasilnya berbeda.

  • Markup dihitung dari HPP: Harga jual = HPP × (1 + % markup)
  • Margin dihitung dari harga jual: Harga jual = HPP ÷ (1 − % margin)

Menggunakan HPP brownies Rp25.000 per box:

MetodePerhitunganHarga jualLaba per box
Markup 40%Rp25.000 × 1,4Rp35.000Rp10.000 (margin ±28,6%)
Margin 40%Rp25.000 ÷ 0,6±Rp41.700±Rp16.700

Jika Anda menargetkan laba 40% dari harga jual tetapi menghitungnya dengan markup 40%, laba yang didapat ternyata hanya sekitar 28,6%. Pastikan Anda tahu mana yang dipakai.

Setelah mendapatkan angka dasar, jangan lupa tambahkan biaya penjualan seperti biaya admin marketplace, iklan, dan promo, lalu bandingkan dengan harga pesaing sebelum menetapkan harga akhir.

Kesalahan Umum saat Menentukan Harga Jual

  1. Tidak menghitung tenaga kerja sendiri. Waktu Anda juga bernilai; jika tidak dihitung, laba yang terlihat sebenarnya adalah upah Anda.
  2. Lupa biaya overhead dan biaya penjualan. Listrik, gas, biaya admin marketplace, dan iklan bisa menggerus laba tanpa terasa.
  3. Sekadar ikut harga pesaing. Biaya dan kualitas setiap usaha berbeda, jadi harga yang cocok untuk pesaing belum tentu cocok untuk Anda.
  4. Terlalu sering memberi diskon. Pelanggan jadi terbiasa menunggu promo dan enggan membeli dengan harga normal.
  5. Tidak pernah meninjau ulang harga. Harga bahan baku dan ongkos bisa naik; tinjau harga secara berkala agar margin tetap aman.

FAQ Seputar Harga Jual

Berapa persen keuntungan yang wajar untuk usaha kecil?

Tidak ada angka baku karena bergantung pada jenis produk, volume penjualan, dan persaingan. Produk dengan perputaran cepat biasanya bermargin lebih kecil, sedangkan produk unik atau buatan tangan bisa bermargin lebih besar.

Apa bedanya HPP dan harga jual?

HPP adalah total biaya untuk membuat atau mendapatkan satu produk, sedangkan harga jual adalah harga yang dibayar pembeli. Selisih keduanya, setelah dikurangi biaya penjualan, adalah laba Anda.

Bagaimana jika harga saya lebih mahal dari pesaing?

Tidak masalah selama Anda bisa menunjukkan alasannya, misalnya kualitas bahan, layanan, garansi, atau kemasan yang lebih baik. Jelaskan nilai tambah tersebut di deskripsi dan konten Anda.

Kapan sebaiknya menaikkan harga?

Saat biaya bahan baku atau operasional naik, permintaan sangat tinggi, atau kualitas produk meningkat. Umumkan kenaikan harga dengan jujur dan beri waktu bagi pelanggan setia.

Apakah reseller dan dropshipper juga perlu menghitung HPP?

Perlu. HPP mereka adalah harga beli dari supplier ditambah biaya seperti kemasan, ongkos kirim stok, dan biaya admin, sehingga harga jual tetap menyisakan laba.

Kesimpulan

Cara menentukan harga jual yang tepat dimulai dari menghitung HPP secara lengkap, memilih metode penetapan harga yang sesuai, memahami perbedaan markup dan margin, lalu memperhitungkan biaya penjualan dan harga pesaing. Harga yang baik adalah harga yang diterima pasar sekaligus menyisakan laba.

Tinjau harga Anda secara berkala, terutama saat biaya naik, agar usaha tidak rugi tanpa disadari.

Artikel ini bermanfaat?

Bagikan:WhatsAppFacebookX

Artikel lainnya